Langsung ke konten utama

Disaster of Bulu Hidung....



Nah, tu bulu idung.
Makin ke sini makin banyak yang menganggap remeh bulu idung nongol. Kalau saya bilang sih
udah fashion disaster lho setelah ketek basah.

Tuhan menciptkan bulu hidung sebagai salahsatu konten 'wajib' pada tubuh kita dengan fungsi yang mantab beuuud (kata terakhir baca dgn cara bibir membentuk huruf Z)

Heheheh...

Patut diketahui fungsi bulu idung, adalah sebagai penyaring  partikel-partikel kecil terutama debu yang terkadang membawa bakteri, virus dan benda asing berbahaya yang masuk kedalam hidung kita noh.


Dengan adanya efek filter ini  partikel-partikel tersebut tidak begitu aja bisa masuk kedalam sistem pernafasan yang berakhir di paru-paru, namun membuangnya lewat mekanisme bersin. Hichiiiiiiiiiiiim!


Lalu apa yang terjadi apabila kita mencabut bulu idung?

Apa hayooo?

Hasil browsing saya ini nih:

"karena kulit dan jaringan lunak berada diantara bulu-bulu hidung, maka ketika kita mencabut bulu hidung, ada kulit dan jaringan lunak yang sobek sehingga memungkinkan infeksi kuman masuk"

OoooooOOoo....

Trus trus?

Ho oh, Selain itu saat bulu hidung tercabut, akan digantikan oleh rambut hidung yg baru. Dimana pertumbuhannya punya risiko untuk tumbuh ke dalam lapisan kulit (ingrown nasal hair) #ngebayangin


Trusss, rambut yang tumbuh masuk ke dalam tidak muncul ke permukaan kulit disebut extrafollicular penetration.

Hah, penetrasi?? Wauuww... langsung ngeres...

Brisik ah, baca dulu hasil googling saya:

Akibatnya adalah radang di sekitar kelenjar atau kantong rambut, yang kadang-kadang bisa disertai infeksi bakteri. Umumnya ingrown nasal hair akan sembuh dengan sendirinya ketika ujung rambut sudah menemukan jalan untuk menembus keluar permukaan kulit.

Ooooo.....serem juga yak ternyata!

Trus dipotong aja gimana Dok?

Trus dijawab dokternya gini:

"Jika dibiarkan terlalu panjang, rambut hidung memang dapat mengganggu penampilan sehingga perlu dirapikan. Sebaiknya dipotong dengan gunting khusus, jangan terlalu pendek, cukup tidak terlihat dari luar dan jangan dicabut karena lebih berisiko memicu infeksi di rongga hidung,"

Siaaap laksanakan dok!

Udah taukan epeknya?

Nah sekerang kita ke perspektif seorang ricki satria.

Kalau takut nyabut, mbo ya digunting gitu. Karena asli di mata saya bikin jijik lho kesan pertama anda.

Jijik aja. Idih, masa masih saya terangin what the reason why-nya....

Jadi critanya saya ada pengalaman mengerikan sejauh ini terkait bulu hidung.

Pertama nih, lagi laper-lapernya di gedung DPR MPR.

Usai liputan, ngantin dong, pilih pilih menu dan bersiap duduk manis menunggu pesanan makanan siang segunung-gunung.

Eh ada abang-abang pegawai MPR (sorry Identitas rahasia, awas kalo masih nanya japri, rahasia pokoknya!)

Trus si abang itu menyapa saya dengan penuh kehangatan, seperti seabad gak ketemu. Emang udah cukup lama juga sih ga ketemu. Lalu,

"Haiiii mas ricki!"
"Hai mas tiiiiiiiiiiiiiiiit"

(Namanya bukan titit ya, itu visual dari bunyi sensor kalo di tipi-tipi getoh)

Lalu kita basa basi dikitlah. Kalau cewek, cakep, pasti saya berinisiatif cipika cipiki. Heheheh...mayankan bisa pegang-pegang orang cantik.

Kemudian lanjut pada sesi basa basi ke dua, selera makan saya langsung minus nol derajat celsius!!!

Dari yang begitu kelaparan langsung kenyang.

Dari yang tadinya seneng banget ketemu sama si abang ini, jadi berubah kek kerupuk disiram kuah sate padang, lembek.


Itu satu.

Lalu, ada juga begini , di depan saya sekarang ini ada seorang rekan sekantor.

Anaknya kalo diliat, point kegantengannya capailah 9. Sedih banget deh, saya aja yang reporter kalah jauuuuuuh sama dia. Bencana gak tuh! #tarikingus


Sebelumnya saya belum pernah satu tim sama ni anak, jadi meski sama-sama orang lama, saya baru kenalan pas satu frame sama dia seminggu lampau.

Pas terlibat dialog jarak deket, lagi bahas apa gitu, sontak deh berubah.

Yang tadinya yeeee, wow! kini berubah jadi wow, yeeeee!!

Itu gara-gara apa? Bulu idung !

Akhirnya, yang paling ganteng sapa coba?

Saya kan? Wkwkwkwkwkwk.....iyakan?

Pada hari dan tempat yang berbeda, punya temen gantengnya mirip artis. Cakra birawa kalo gitu mah.

Seminggu dua minggu pertama sih, asik-asik aja. Ga ada 'disaster' yang terjadi. Semua berjalan seperti seharusnya. Aseek.

Tapi pada minggu ke tiga berteman, yeeeee, ilfil kalo gitu mah!

Melambai-lambai itu si bulu idung, apalagi pas ketawa-ketawa, duuh lambaiannya udah kayak tirai bambu laut cina selatan, ah!

Lupa motong kali ya...padahal anaknya resik. Remah nasi aja ga ada kalo lagi makan.

Itu hanya tiga contoh.

Contoh ke empat, berpengalaman dengan bulu hidup sama perempuan. Masih muda keknya. Temen juga.

Awalnya sih ga ngeh kalao doi buluan gitu. Pasa pada obrolan seru dan kita semua ngakak, jembreeeeeng, helai demi helai si bulu hidung langsung pawai kemerdekaan tujuh belas agustusan, lambai lambai!!!

Saya tahu, temen saya ini bulu idungnya saya liatin. Alhasil, secepat kilat dia menurunkan tempo ketawa dan pelan-pelan mengecilkan diameter mulutnya. Wkwkwkwk....


Kan ngaruh, semakin lebar mulutmu ketawa, lobang idung makin kebuka juga kan. Dan si bulu-bulu itu, kian seneng bermekaran bak bunga sakura !

Langsung seketika, mengambil kesimpulan, bahwa  kalo ketemu ni anak nanti-nanti, males ah ngajaak ketawa.
Apalagi kalo lagi makan, sebisa mungkin, nyapa doang. Daripada saya ilfil, selera makan ilang, kan ga sehat juga ke saya.

Segitunya ya efeknya buat saya pribadi, ckckckckckck....padahal itu hanya selembar dua lembar bulu idung.


Nah, kalo saya pribadi, pernah pastilah tanpa disadari bulu idungnya nongol. Maklum saya juga dianugrahi bulu idung yang rimbun dan panjang.

Tapi kenapa ya, saya dan juga anda barangkali, pada ga brani bilang gini :

"Hei, bulu idung lo!"

Itukan kesannya jahat banget kan ya. Sungkan aja, takut kesinggung, trus ngecap yang bilang sebagai orang yang rese dan tega, maluin temen.

Enggak juga kali ya. Kan demi kebaikan.

Jadi, sebelum berangkat gaol atau kerja atau ketemu orang-orang, priksa idung serajin mungkin. Kalo panjang, kan kata dokter boleh dipotong dikit.

Atau kalo perlu, tanya sama pacar, emak atau orang terdekat, "eh bulu idung gw suka nongol gak?"

Mungkin ini terapi yang mumpuni.
Kalau masih cuek ya apa boleh buat. Ini kan saran ya. Saya kok yakin, lebih banyak yang sepaham dengan saya soal bulu idung gini. Karena jijik kan kesannya.


Ya udah pokoknya gitu aja. Selain bulu-bulu halus lainnya yg harus rutin dipangkas, bulu idung wajib dijaga. Karena letaknya di muka. Beda cerita kalo letaknga di kuduk.


Udah ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggenggam Batam

Akhir April 2015 silam saya mengambil cuti tahunan untuk sejumlah kepentingan dunia akhirat. Aseek. Namanya juga cuti ya, apalagi agenda ini tak biasa sudah barang tentu menjadi sebuah hal yang sangat dinanti -nantikan. Tapi sory ya bro en sist, di tulisan kali ini, agenda yang tak biasa itu ga bisa saya paparkan yak, rahasia negara soalnya. Tapi kalo soal kehebohan saya jalan-jalan di Batam dan ngapain aja selama pulang kampung, pasti akan saya ceritakan dengan riang gembira. Like usually... Eh eh kok ke Batam? mau belanja barang elektronik?? Ennah itu dia. Critanya saya mau ke Singapura melalu cara yang ga biasa dari Jakarta. Saya udah menyusun segala sesuatunya untuk solo traveling ke sana. Dua bulan sebelumnya deh, sampe saya beli guiding book segala lho. Jakarta flight ke Batam, trus naik ferry buat nyebrang ke singapura. Kalo Jkt-Sin, basik. Terlalu biasa. Kalo via Batam, ada tiga pengalaman di tiga daerah yang berbeda yang tentunya punya kehebohan tersendiri. Ka...

PACAH TALUA !

Setelah penantian lima tahun lebih, akhirnya bisa mudik lebaran juga tahun ini. 1 Syawal 1438 H, alias 2017. Aroma bisa merasakan nikmatnya mudik lebaran itu sebenarnya udah kecium sejak saya mutasi. Dari divisi Jakarta News Daily ke Current Affairs. Sejak itulah saya selalu berdoa agar beneran gitu bisa pulkam. Dan beneran aja, alhamdulillah doa dijabah. Dan mau tahu rasanya gimana? TAK BISA DILUKIS PAKE KATA-KATA. BAHAGIA LAHIR BATHIN MESKI KANTONG TERKURAS. wkwkwkwk.... Gimana enggak, di saat orang bersuka cita mudik dengan berbagai cara, saya justru berjibaku di jalanan guna kerja, liputan mudik. Kalo enggakpun kebagian, dipastikan hari H, saya kerja. Liputan. Jadinya sedih dobel-dobel gitu. Makanya, ketika kesempatan itu datang, bahagia dobel-dobel juga. Merasakan gimana deg-degan nya menunggu hari kepulangan. Menikmati detik demi detik berburu oleh-oleh, belanja pakaian di Tanah Abang. Belum lagi impian, merasakan riuhnya ruang tunggu bandara. Bareng-bareng dengan para pemud...

catatan perpisahanku dengan SUSHI FM

BEuuuuuhh.....5 tahun setengah lebih kurang gue dibesarkan sekaligus ikut membesarkan SUSHI FM.......dua pekan jelang ramadan tahun 2003, gue masih menjadi anak muda item, bau, kampungan dan tak begitu berharap banyak untuk diterima di sushi fm, namun sekarang dua pekan jelang ramadan 2009, yang item, bau, kampungan itu telah menyudahi karirnya di SUSHI FAM YANG KINI MENJADI RADIO TERBAIK PERTAMA DI SUMBAR. BERKAT ARIL Adalah khairil anwar tanjung a.k.a arya danta a.k.a aril yang betul-betul berjasa membawa gue menjadi seorang ricki satria, yang dulunya hanya dikenal sebagai Yovan Etreusca dan Rizki Borobudur (at BOOS FM) dari sebuah radio kecil di pelosok pecinan. Dua pekan sebelum ramadan 2003, lima anak muda cowok duduk harap-harap cemas menunggu namanya dipangil buat wawancara. Ke lima anak muda itu (lupa-lupa inget ya) Aril, ricki, Sutan, Ari Jangkung, satu anak UNP dan satu lagi anak UPI, gue lupa namanya. Jujur, secara fisik gue nomor terburuk ke d...