KKK : Hukum Rimba kala musim hujan datang

Hukum rimba kala musim hujan datang


Enggak manusia enggak hewan kalau udah masuk musim hujan, bawaannya seneng-seneng bete. Seneng, karena bisa bobo melingkar dengan enaknya. Bete, karena kemana-mana gak leluasa, dingin pula. Iya kan? Enaknya emang tidur deh, udah titik.

Di keluarga kucing, sebenernya terlihat  adem ayem aja, tapi yang namanya juga kehidupan, adaaaa aja yang bikin senewen.

Uun dan Enning, kini lagi bete-betean gara-gara rebutan kasur empuk. Jiahh…yang direbutin mending bener-bener kasur empuk dalam artian yang sebenernya, ini mah cuma sebuah kardus bekas tarok indomie!!

Heheheheheh…..

Iya, kucing kalau udah hujan gini bawaannya di rumah terus, gak main dan maunya pengen melingkar di kardus, bobo. Bangunnya, palingan cuma buang air sama makan, sisanya ya tidur (enak bener ya…?)

Pagi ini kembali hujan mengguyur, deres banget. Satria, Pak Manar, Mak Unang dan Kak Yani sepertinya menunda semua gaweannya alias di rumah saja. Hujan deres yang disertai badai ini, juga membuat para keluarga kucing berpikiran sama. Mami sejak semalam belum tertarik untuk bangun, Fatima masih kusyuk dengan selimut tebel pinknya, Enning melingkarnya bulat banget hihihihihih…….Gadizapun demikian. Tony dan Khairul bobonya samping-sampingan. Ibu Debi,  gak mau kalah dengan selimut ungunya mendengkur. Uun?

Nah itu dia, dengan setengah ikhlas dan hati merungut Uun hanya bisa bertahan sambil tidur-tidur ayam di deket kompor yang tak menyala, karena semua lokasi strategis sudah fully booked!! Kasian banget ya….
Meski diupayakannya nebelin bulu (aduh, apa ya bahasa ilmiahnya?), mendengkur tapi tetep aja bathinnya koyak. Matanya sesekali terpejam, pertanda tertidur. Namun hanya sebentar-sebentar karena cuaca yang dinginnya amit-amit begini, membuat Uun begitu susah payah untuk bobo enak. Tiap sebentar, merapikan buletannya dan melingkar lagi. Namanya juga berpijak diubin, ya tetep dinginlah!!

“Edan. Sialan. Mentang-mentang gue pendatang ya main ambil aja. Selama ini gue mengalah, dan sabar itu ada batasnya teman!” Gumam Uun menatap tajam Enning yang melingkar indah di kardus. Uun mengalihkan pandangan ke pojokan gudang, maminya Enning terlihat centil memeluk guling di baskom pecah anget kesayangannya.
“Uh, beteeeeeeee!!” pekik Uun dalam hati. Pemandangan yang sedang diliatnya ini bener-bener membuat ia geram. Isu SARA begitu merajalela, hukum rimba berurat berakar…
“Gak bisa. Gue harus melakukan perlawanan, kalau tidak, gue akan terus-terusan menderita !!”

Sebenernya, Satria dan keluarganya sejak para kucing ini masih imut dan lugu  pada dikasih kardus kok tiap ekornya buat mereka bobo. Di dalam kardus itu, dikasi sehelai kain bekas sarungnya Mak Unang (ih baik banget) buat alas sekaligus bisa bikin anget siapa aja yang tidur di sana. Cuma gak tau kenapa, dasar hukum rimba, yang kuat dialah yang menang. Tak terkecuali mami Enning. Entah bagaimana kisahnya, si mami kok bisa dapet baskom pecah yang warnanya lucunya banget, Off Pink yang dibawa Ibu Debi ketika baru pindahan. Gadiza, walau adik kandung sendiri tetep aja gak bisa mengelak dari perbuatan keji dan mungkar sang kakak, Fatima. Dengan cueknya, ia melingkar anggun di kardusnya Gadiza, padahal kardusnya masih utuh meski compang-camping dikit. Males ribut-ribut, Gadizapun mengalah.

Enning juga termasuk yang gak bisa menjaga attitudenya. Gak tanggung-tanggung, tiga kucing junior sekaligus yang dilibas. Tony, Khairul dan Uun. Atas nama hukum rimba, Enning seenak buntutnya aja pindah dari satu kardus ke kardus yang lain, setelah puas menggaruk-garuk kardus orang (aduh, susah nyari bahasa yang tepat!)  sampai jebol. Yang penting bisa tidur anget, nyenyak dan indah. Protes dikit, Enning langsung lupa daratan. Bacok!

Siapa yang gak ngeri coba……..???? Iya sih bacoknya pake taring doang, tapi kan tetep aja judulnya sakit…..

Sebenarnya nasib Uun gak melulu tragis begini. Pada awal kedatangan Uun, semuanya kebagian tidur anget. Ada sih sempet sirik-sirikan antar mereka cuman pada akhirnya terselesaikan. Gak sampai perang cakar segala, cuman saling bacok! Heheheheheheh…

Selain masalah kasur anget, masalah makanan juga kadang-kadang kalo mereka loose control, suka saling bacok lagi. Mungkin sama kali ya dengan manusia, kalo udah hujan bawannya lapeeerrrrrrrr….apa aja terasa legit. Apalagi yang panas-panas dan garing, hahahahahahahahah….manusia banget deh,

Menunggu jam makan bagi para kucing pada musim hujan ibarat menunggu fotokopian seratus halaman rangkap dua timbal balik, lamaaaaaaa banget!! Sebenarnya sama aja dalam soal jadwal, namun karena bawaannya laperrrrr toh mau gimana lagi coba?

Begitu jam makan datang, semuanya kalap. Sifat kebinatangan mereka gak bisa disembunyikan lagi. Kalo pengen lihat gimana hukum rimba secara deket, ini adalah momen yang pas. Ibarat kata, punya orang punya kita juga. Makanya, gak jarang, baru terhidang beberapa detik, raungan dan saling menyembur terdengar kenceng.  Mungkin memang sikon yang membuat  perut mereka penuh dengan rongga-rongga menuju neraka!

Kalo udah begini, Mak Unang yang paling semangat ngomel-ngomel sambil menyentil telinga kucing. Aksi sentil menyentil ini paling dimurkai oleh semua kucing. Gimana gak, yang gak salah tetep kena sentil,kenceng lagi. Aduh, beda deh kalo udah musim hujan ini. Sekali lagi hukum rimba betul-betul gak bisa ditawar-tawar sama hukum-hukum yang lain. Yang paling lemah itulah yang merana.
Dada Uun makin sesak. Ke dua pangkal alisnya bertemu (emang ada alis gitu?), matanya menusuk tajam ke Enning, ekornya tegak luru, lurus banget. Giginya bergetar, pertanda lagi kedinginan……..hihihihhihi Ya bukanlah, pertanda geram yang teramat sangat dari seorang (aduh orang lagi!) yang lama tertindas.

Ibarat adegan di pilem-pilem kung fu, Uunpun memasang kuda-kuda. Kaki dan tangannya digaruk-garukin ke lantai. Sekali dua kali tiga kali empat kali dan lima kali,  dan Uun pun siap mampus!

“Bismillahirahmanirrahim….” Sebut Uun khidmat. Hahahahahahha…..
Dan…..

Gbuk….dag duh gbukkk….aaaauuuuuuw!! Meooooong, brakkk, gdubug, krumpiyang, gdbukkkk, meoooooooooong, braaak, aduh! Gedubak……krumpiyang, gdubuk, meoooongggggggg…..krumpiyang….. aduhh!!!!

Bunyi pukulan, cakaran, raungan dan piring pecah pun membahana………..
Enning kusut masai menggigil ketakutan, menghambur ke luar kardus hangatnya dan ngacir ke plafon sambil terengah-engah. Pipisnya berserakan kemana-mana. Hahahahahahahahahah…… Bulu lembutnya koyak dan beberapa bagian badannya terdapat luka cakaran dan  bekas gigitan.

Semua kucing terbangun. Satu per satu  menyembulkan kepalanya dari kardus masing-masing. Kecuali mami (kan di baskom). Mereka serempak menunjukan ekpresi kaget luar biasa, ekor mereka pada berdiri tegak lurus, lengkap dengan bulu yang berdiri. Tak satupun yang bersuara.  Pandangan melongo mereka terarah pada satu titik, Uun.

“APA LIAT-LIAT????”


Semua kucing yang melihat, serempak meyembunyikan kepalanya ke dalam kardus. Dan Uun pun melenggang gagah penuh kemenangan menuju kardusnya lalu melingkar dengan tenang. Huuuufffft….!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KKK: Mandiin kucing, beneran bisa mendatangkan hujan??

catatan perpisahanku dengan SUSHI FM

Permisi..........