KKK : Gigitan Maut

Gigitan maut
                                                       

Suatu siang di bawah pohon akasia yang rindang, tiga ekor kucing betina lagi asik ngerujak. Mulut mereka mengap-mengap menahan pedes.  Rujaknya keliatan enak, lengkap dengan mangga mudanya.  Hihihihihih….

Sambil ngrujak, mereka ngegosip. Yang paling semangat tentu saja, Epa, kucing betina bahenol yang sok ngartis dan bigos.

“Rabies gitu lho. Akika ga habis piker deh bo. Kenapa si Fatima lepas tangan gitu aja, dibujuk pake apa kek.  Adik sendiri lho bo. Katanya berpendidikan,” sergah Epa mencibir. Mayar, kucing bigos satunya lagi gak kalah mencibir.
“Ho oh. Katanya satu keluarga peduli kesehatan. Bersin-bersin dikit langsung ke Puskescing (Pusat Kesehatan Kucing),” sebut Mayar sambil mengunyah timun.
“Iya ya, tinggal dia doangkan cint yang belom disuntik? Coba, kalo dia lagi ngamuk, dan menggigit kita, ih ngeri banget. Amit-amit,” sambar Agnes kucing lain sebelum nyomot bengkoang.
“Tamat deh karir keartisan gue….” Sambar Epa mengunyah mangga muda. Dan rumpian merekapun semakin hot, karena si Enning terancam binasa.
Yap, Enning kena kasus. Beberapa hari lalu, Ia kalap trus kemudian dengan liarnya mencakar dan menggigit tuannya, bernama Satria. Akibatnya bisa ditebak, cakaran dan gigitan Enning di tangan kanan tuannya itu berbuntut luka dan berdarah. Makanya, si tuan, khawatir terkena rabies dan segera berobat ke dokter.
“Kucingnya kucing liar gak dek?” Tanya Pak Dokter sambil priksa-priksa luka.
“Gak dok, kucing peliharaan. Kucing kesayangan malah dok,”
“Kok bisa kena?”
“Gak tau juga Dok. Lagi asik-asik mainin ekornya, eh tiba-tiba aja dia ngamuk. Kena rabies gak Dok?”
“Semoga tidak. Eh kucingnya pernah disuntik rabies tidak sebelumnya? Tapi kena apa tidaknya, belum bisa diketahui sekarang,” sebut Dokter lagi.
“Gak pernah tuh dok. Terus kapan ketahuannya Dok?”
“Agak lama, bahkan ada yang lima bulan setelah digigit. Tapi, langkah sederhananya, kamu karantina itu kucing dari sekarang,”
“Karantina?”
“Dikurung. Masukin dalam sangkar, biarkan selama sepuluh hari. Sepanjang itu, kucing kamu tadi tu gak boleh dikeluarkan. Kalo sempet mulutnya berlendir, bahkan berbusa dan gelisah terus bahkan langsung  mati, tandanya si kucing berpeluang terjangkit rabies, artinya, kamu juga berpeluang pula. Karena virus rabies itu berada dalam air liurnya, jadi ketika menggigit, bisa jadi air liurnya kecipratan di luka gigitannya,” terang dokter panjang lebar. Satria Panik.

Begitu pulang ke rumah, Satria langsung mencari Enning. Karena tidak pada jam makan, makanya sepi.  Kucing-kucing di rumah itu pada nenangga, bobo di sawah,ke sekolah, ke pasar, bahkan ngrujak.
“Tuh si tuan Enning, panik bangetkan bo?” sahut Epa melihat kea rah Satria, yang nyari Enning sambil  bawa piring dan sendok, terus dipukul-pukul.
“Yeeee, emang kita sebodoh itu, asal bunyi sendok ketemu piring, kesannya manusia lagi ada yang makan. Ih !!” cibir Mayar sambil nambahin kecap.
“Critanya gimana sih kok Enning sampai menggigit Satria Cin?” Tanya Agnes, nyomot jambu air.
“Lagian, ekor kita dimainin. Diplintir-plintir membentuk angka delapan, sakit banget kale!” jawab Epa emosi.
“Lo tau dari mana Pa?”
“Fatima, kakaknya Enning curhat ke gue. Makanya, keluarga Fatima lagi stress berat sekarang,”
“Stress kenapa?”
“Yah stresslah, kan Enning satu-satunya yang belum dapet suntik rabies taun ini. Bisa jadikan ia positif, negative, sinus, cosinus, tangen…”
“Yeeee..” teriak Agnes dan Mayar nelan kedondong!! Sementara Satria dan keluarga besarnya, makin sibuk dan panik mencari Enning buat dikarantina.

Sementara itu, di atas plafon rumah Satria. Enning dan keluarga besarnya lagi bermusyawarah. Enning tertunduk lesu. Gak seperti biasanya, selalu tampil kece. Ada bokapnya juga, sengaja datang dari rumah istri mudanya. Maminya Enning terlihat yang paling shock. Fatima, tak kalah shock. Sedangkan Gadiza dan Toni, dua adiknya hanya bisa diam, sambil mainin ekor panjangnya.

“Papi selalu wanti-wanti ke kalian, tiap enam bulan wajib ke Puskescing. Nyuntik! Ini omongan saya tak di denger. Kalo positif gimana jadinya? Kita semuakan yang nanggung resiko??” Sahut Papi galak.

“Iya Pap. Waktu itu Mami udah bilang ke Enning,” ujar Mami.
“Bukan masalah itunya!! Disiplinnya. Rabies bukan masalah sepele. Nyawa taruhannya. Lagian kamu juga, main cakar dan gigit aja!” sembur  Papi serem lalu melihat kea rah Enning.
“Enning udah meong-meong protes Pi. Gak ditanggepin. Si Tuan Satria, kali itu emang kelewatan mainin ekor Enning. Ditarik-tarik, kayak tarik tambang, sapa yang ga keki juga!!”
“Mami lihat, Tuan satria keknya loose control Pap. Narik-nariknya kasar, kasian Enning,”
“Kamu belain anak melulu!!” hardik Papi. Mamipun mingkem. Fatima mencoba menengahi…
“Udah deh Pi. Gak menghardik Mami kenapa?  Lagian, pas jadwal nyuntik, kita sibuk semua Pi. Jadi berangkatnya ga barengan seperti sebelum-sebelumnya.  Aku sibuk nyusun proposal skripsi, mami lagi repot-repotnya ngurus Gadiza sama Toyi ketika itu. Nah si Enning, sibuk persiapan UAN. Mami si ingetin, cuma ya itu kita semua ga barengan. Kita juga lupa nanya-nanya malamnya, apa udah suntikan apa blum waktu itu. Pikir kita sih, semuanya udah.  Coba deh Pi, gak nyalahin kita. Manusia tu, kadang suka over kalo menyayangi kita. Gak sekali dua kali deh. Kumis aku aja sampai digundulin Tuan Satria. Terus dibedakin, dikasi lipstick, blush on, perona mata, yang ada bukannya cantik, sesak nafas bau zat kimianya!!”
“Iya pi. Aku juga. Perut aku dikitikin sampai nangis sama manusia. Kumis juga, sebelah kanan digundulin, sebelah kiri kaga,” sahut Gadiza.
“Tony juga pernah Pi. Masa, idung Toni dipencet-pencet, terus ditahan, dipencet lagi, nafas jadi susah, siapa yang gak marah Pi. Kemaluan Tony, juga disentil-sentil sama anak-anak manusia, ”
“Tuh, denger sendirikan anak-anak yang ngomong!!” sindir mami ke papi, ketus. Gantian papi yang mingkem. Suasana hening sejenak. Lalu…
Teng..teng…teng…teng.…
Papi, Tony dan Gadiza secara refleks berhamburan panik menuju suara piring dipukul sendok itu. Makaaaaaan. Dasar binatang!!

Mendengar suara gedebak gedubuk dari atas plafon rumah, Satria tersenyum. Namun belum sempet sampai di dapur, mami Enning berteriak. Stoooooooop!!!!!! Yang tadi berlari panik, sontak berhenti. Mami mendekat dan menjewer telinga Gadiza dan Tony, tak terkecuali papi. Ke empatnya kembali ke posisi semula.

“Gampang banget sih kena tipu!” kata Fatima menyindir  Papi, Gadiza dan Tony. Merekapun tersadar. Sementara Satria kepalang bahagia dengan hasil tipu dayanya  menangkap Enning akan berhasil. Enning mengintip, dan cekikikan.

“Sudah, sudah. Sekarang begini saja, kamu tak perlu dikurung.  UAN sudah kan?” Tanya Papi ke Enning.
“Udah Pi,”
“Ga ke sekolah-sekolah lagi kan?”
“Enggak Pi,”
“Bagus. Kamu jangan sampai ketangkap sama Satria dan keluarganya. Caranya, selama sepuluh hari kamu ayah amati dengan tinggal di rumah bunda. Biar aman ketimbang sini,”
“Tapi pap…” sergah mami cemburu.
“Tapi apa??? Ini demi anakmu, jangan asal cemburu,” tukas Papi. Mami mingkem.
“Kamu, yakinkan sebelum ini tak pernah absen nyuntik Ning? Digigit yang lain?”
“Iya Pi, baru absen kali ini, Tanya aja sama mami kalo gak percaya. Kalo digigit, ada sih. Cuman udah lama banget,”
“Siapa yang gigit?”
“Epa Pi,”
“Kapan?” Tanya Papi khawatir, tapi  gaya khawatirnya mencurigakan.
“Udah lama Pi, Januari tahun kemarin. Tapi sampai sekarang, kita gapapa tuh,”
“Oh syukurlah,” . Mami curiga dengan gaya papi ini. Tapi karena gak mau nambah masalah, mami berusaha berpositif thingking.

Akhirnya dengan berat hati mami melepas Enning buat tinggal sementara di rumah madunya. Tinggallah mereka berempat untuk sementara.
Di dunia manusia, Satria dari hari ke hari makin tak tenang. Enning, kucing jantan kesayangannya menghilang.  Berarti ia tak bisa mengawasi Enning. Obat antibiotik, ditenggaknya secara rutin. Salatnya juga makin rajin, hehehehheh…dasar manusia!! Satria seperti orang mau mati besok. Selain makin rajin salat, tepat waktu pula, omongannya seolah-olah akan pergi jauh sama siapa saja. Termasuk sama ayahnya, Pak Manar dan Mak Unang, ibunya. Satria emang panikan orangnya.
“Mak, andai benar aku terkena rabies nantinya, maafkan Satria ya mak..” ujarnya sendu suatu hari ke Emaknya yang sedang masak.
“Ngomong apa sih!!” sahut Emaknya sewot.  Dari atas kulkas, Fatima cekikikan menyaksikan ini, lalu kemudian sibuk smsan sama adiknya, Enning.

Dan, pada hari ke sebelas, dasar kucing sehat, Enning untung tak mengalami kejadian serem seperti yang dokter bilang ke Satria. Karena ingin balas dendam, dan tahu persis gimana kondisi kejiwaan Tuannya saat ini, Enning pun menyusun strategi sebelum pulang.

Tibalah pada jadwal makan malam, dimana semua anggota keluarga Satria berkumpul dan sibuk dengan piringnya masing-masing, kecuali Satria. Ia makin deg-degan, karena ini sudah hari ke sebelas. Selera makannya ilang, karena deg-degan tadi. Tiba-tiba, matanya terbelalak hebat, tubuhnya bergetar dan akhirnya…..

“E…..E…..Ennniiiiiiing. Tidaaaaaaak!!!” Satria pingsan dengan suksesnya. Semua yang lagi sibuk makan, baik manusia dan kucing, sontak melihat ke arah pintu masuk, yang berada persis di depan Satria, seperti yang ditunjuk Satria sebelum pingsan. Ada apa?
Enning berjalan sempoyongan, dengan mulut menganga dan…….. air ludah berceceran!!! Semuanya kaget. Kecuali  Fatima.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KKK: Mandiin kucing, beneran bisa mendatangkan hujan??

catatan perpisahanku dengan SUSHI FM

Permisi..........