Langsung ke konten utama

Lagak di Curug Cibadak

Pikniklah bila ga ingin bego.
Jangan bego pas belum gajian.
Sambil nungguin 3355 masuk, dilarang bego di kosan.

Hahahah...barangkali begitulah yang menjadi alasan kenapa di akhir bulan Agustus 2016 lalu saya galau.

Selepas kerja, menjelang tengah malam, sehari sebelum gajian, saya tetiba aja kepengen jalan-jalan murah. Ramean ato solois, sama aja. Yang penting jalan. Mengenai itenerary nya entar-entar aja. Lagian ga jauh juga. Bogor doang!

Yap, Bogor.
Berbilang bulan lalu pas maen instagram, saya ketemu lokasi OK. Wisata penangakaran elang dan curug di wilayah Kampung Loji, Kabupaten Bogor. Lupa nama akunnya yang jelas, ada foto-foto yang menggambarkan hutan pinus, jembatan gantung, curug, penangkaran elang. Di mata saya bagus banget. Ricki banget. Ketimbang pantai saya lebih suka ke dataran tinggi, nyari kesejukan, melihat kabut dan masuk kampung keluar kampung.

Aha, disusunlah rencana. Mumpung besok libur, kira-kira bisa ngajak siapa gitu. Saya WA in aja temen-temen yang biasa jalan bareng. Tengah malam buta. Mendadak.

Alhasil tak ada yang menyanggupi. Grouping yang selalu saya andalkan buat jalan-jalan, membernya pada sibuk semua. Lagian mendadak amat sih ya. Nah, itulah seninya, di situlah adrenalinnya. Ketimbang udah well planed jauh-jauh hari taunya ga jadi, kan pait. Dan tak masalah juga buat saya, jalan-jalan sendirian. Justru lebih nikmat, gak tunggu-tungguan, terhindar dari konflik, walau sejauh ini kalo grouping ga pernah juga kejadian saling jambak saat jalan-jalan ramean.

Clear. Beres. Saya besok sendirian aja. Saya baca lagi ulasannya. Tentunya bagaimana rute menuju kesana bila dari Bogor. Ribet ah keknya.

Tengah malam buta saya WA teman sekantor saya, Ivan. Orang Bogor asli. Saya kirim link berita tentang Kampung Loji. Gak lama kemudian

"Kalau udah sampai Bogor kabarin gue," jawab Ivan.

OMG. Dapet temen nih. Trus trus?

"Besok lo sibuk ga? Kalo gak, ikut yuk?"
"Liat dulu, pagi gw anter nyokap kontrol dulu,"
"Oh, kalo gitu urutan rutenya aja kasih tau van, naik angkot turun angkot,"

Ivan tampaknya kurang paham
"Udah pokoknya gw anterin besok,"

Alhamdulillah.

Agar rencana itu enggak berantakan, sebaiknya menyiapkan plan B. Takut Ivan sibuk mendadak, atau takut saya panik. Sayapun menghubungi seorang temen orang Bogor yang hantunya jalan-jalan. Namanya Izhan. Dan....dia mau nganterin ke lokasi, karena udah pernah ke sana. Tapi....

"Gue sekarang kerja nguber bang, iya sini gue anterin,"

Wah, ga enak ganggu orang kerja. Bukannya menolak rezeki, tapi insya Allah berani kalo sekiranya akhirnya sendirian kesana.

Akhirnya, persiapan matang. Ada atau ga ada Ivan, besok saya tetep jalan-jalan bego sendirian. Titik.

Sayapun segera istirahat, agar besok stamina seger. Nih dia nih yang naman Ipan alias Firmansyah alias Ivan Firmansyah:







===

Besok harinya.
Jam 8 pagi harinya saya berangkat dan dua jam kemudian ketemu Ivan di Bogor.
Bogor bagi saya selalu menyenangkan. Karena kesan pertama ke Bogor tahun 1996 silam, begitu indah. Maka oleh daripada itu, having fun till the end aja pas ketemu Ivan. Kebetulan ini anak juga libur ya sudah.

"Hai pannnnn,"
"yuk!"

Sayapun boncengan. Dianter ke kampung loji. Muter-muter jalan protokol, dan 10 menit kemudian nyampe.

"Udah nyampe Ki," sebut Ivan menghentikan motor. Sayapun membaca plang sebuah tempat, ada tulisan "Kampung Loji, Bogor" disana.

"Oh deket ya" jawab saya. Tapi kok perasaan saya gak enak. Setelah membaca plang nama tadi, sayapun menyapu pandangan ke sekililing. Pemandangannya datar-datar aja.
Enggak ada bukit dan hutan pinus sejauh mata memandang. Yang ada malah gerbang kompleks, ruko dan keriuhan khas kota padat.

"Yakin Pan di sini?"
"Ya kalo Kampung Loji ya ini Ki, coba cek lagi deh link nya"

Sayapun browsing lagi dan...

"Kaki Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kampung Loji, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Dari Bogor ambil arah ke Lawang Gintung melewati stasiun Batutulis, setelah menemui pertigaan, ambil arah kanan ke Cijeruk. Kemudin mengarah ke Pamoyanan, Cihideung, Cibadak, Pasir Jaya dan Loji, nyampe deh."

Saya kasi liat ke Ivan.

"Hahahahahaahahah...........kabupaten itu mah!"
"Jadi ga di sinikan?"
"Enggak!"

Hahahahaha....

"Tapi lo tau?" tanya saya
"Enggak, ntar nanya-nanya aja,"
"Jauh kan ya?"
"Iyeeee heheheh..."
"Gini aja, lo kan lagi anterin nyokap berobat. Ga enak gue. Gue naik angkot aja udeh, gapapa kok"
"Nanggung nih ki, gue juga pengen tau"
"Jadi lo fix nih ikut ke TKP?"
"Iye"
"Nyokap gimana?"
"Amanlah. Nanti sore disamperin lagi, maklum BPJS ngantrinya lama,"
"Benerin nih gapapa?"
"Iya udah biasa kok. Makanya ayok kita jalan sekrang, biar sore kita udah di kota lagi,"

Lets go bro!
Akhirnya tancap gas. Trip pertama sama Ivan nih. Selama ini ketemu bahas kerjaan terus. Bertahun-tahun sekantor yang dibahas kerjaan dan urusan kantor melulu. Maka ga ada salahnya hari ini bahasan kita beda di tempat yang beda dan ga pake seragam. Assyik.

Singkat kata, setelah tuwing-tuwing naik motor menyusuri jalan ijo royo-royo, akhirnya kita sampai ke belokan terakhir guna mencapai kampung loji yang dimaksud. Jalanan sudah ga beraspal hingga menukik tajam. Butuh 10 menit untuk bisa sampai tempat parkir. Karena entah warga apa bagian dari dinas terkait, yang jelas ada tempat parkir yang luas dan tertata.

Dan, perjalanan menuju penangkaran elang berikut jembatan gantung dan hutan pinus plus curug Cibadagnya dimulai.  Kesimpulan saya, lokasi ini cakep. Terawat. Ada petugas dari penangkaran hewan pemerintah kabupaten Bogor yang jaga bergantian.

Sejuk, asri, apalagi hutan pinusnya yang bisa dijadiin buat foto pre wedd selain memang bisa dipake juga buat aktifitas kemping.

Kalau mau ke curug, 30 menit dengan hiking bisa kok. Pokoknya apa yang ada di sini itu Ricki banget. Enggak banyak yang buatan. Hanya warung aja yang enggak ada
Jadi musti bawa bekal.

OK. Terima kasih Ipan. Maaf apabila ini mengacaukan agenda bakti kepada ibu tercinta. Pisss...kan Ipannya tadi bilang kepo, pengen lihat lokasinya.

PUAS
Tapi saya agak ragu dengan Ivan. Nyesel yang ada keliatannya, bener pan? maaf.....






















===




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggenggam Batam

Akhir April 2015 silam saya mengambil cuti tahunan untuk sejumlah kepentingan dunia akhirat. Aseek. Namanya juga cuti ya, apalagi agenda ini tak biasa sudah barang tentu menjadi sebuah hal yang sangat dinanti -nantikan. Tapi sory ya bro en sist, di tulisan kali ini, agenda yang tak biasa itu ga bisa saya paparkan yak, rahasia negara soalnya. Tapi kalo soal kehebohan saya jalan-jalan di Batam dan ngapain aja selama pulang kampung, pasti akan saya ceritakan dengan riang gembira. Like usually... Eh eh kok ke Batam? mau belanja barang elektronik?? Ennah itu dia. Critanya saya mau ke Singapura melalu cara yang ga biasa dari Jakarta. Saya udah menyusun segala sesuatunya untuk solo traveling ke sana. Dua bulan sebelumnya deh, sampe saya beli guiding book segala lho. Jakarta flight ke Batam, trus naik ferry buat nyebrang ke singapura. Kalo Jkt-Sin, basik. Terlalu biasa. Kalo via Batam, ada tiga pengalaman di tiga daerah yang berbeda yang tentunya punya kehebohan tersendiri. Ka...

PACAH TALUA !

Setelah penantian lima tahun lebih, akhirnya bisa mudik lebaran juga tahun ini. 1 Syawal 1438 H, alias 2017. Aroma bisa merasakan nikmatnya mudik lebaran itu sebenarnya udah kecium sejak saya mutasi. Dari divisi Jakarta News Daily ke Current Affairs. Sejak itulah saya selalu berdoa agar beneran gitu bisa pulkam. Dan beneran aja, alhamdulillah doa dijabah. Dan mau tahu rasanya gimana? TAK BISA DILUKIS PAKE KATA-KATA. BAHAGIA LAHIR BATHIN MESKI KANTONG TERKURAS. wkwkwkwk.... Gimana enggak, di saat orang bersuka cita mudik dengan berbagai cara, saya justru berjibaku di jalanan guna kerja, liputan mudik. Kalo enggakpun kebagian, dipastikan hari H, saya kerja. Liputan. Jadinya sedih dobel-dobel gitu. Makanya, ketika kesempatan itu datang, bahagia dobel-dobel juga. Merasakan gimana deg-degan nya menunggu hari kepulangan. Menikmati detik demi detik berburu oleh-oleh, belanja pakaian di Tanah Abang. Belum lagi impian, merasakan riuhnya ruang tunggu bandara. Bareng-bareng dengan para pemud...

catatan perpisahanku dengan SUSHI FM

BEuuuuuhh.....5 tahun setengah lebih kurang gue dibesarkan sekaligus ikut membesarkan SUSHI FM.......dua pekan jelang ramadan tahun 2003, gue masih menjadi anak muda item, bau, kampungan dan tak begitu berharap banyak untuk diterima di sushi fm, namun sekarang dua pekan jelang ramadan 2009, yang item, bau, kampungan itu telah menyudahi karirnya di SUSHI FAM YANG KINI MENJADI RADIO TERBAIK PERTAMA DI SUMBAR. BERKAT ARIL Adalah khairil anwar tanjung a.k.a arya danta a.k.a aril yang betul-betul berjasa membawa gue menjadi seorang ricki satria, yang dulunya hanya dikenal sebagai Yovan Etreusca dan Rizki Borobudur (at BOOS FM) dari sebuah radio kecil di pelosok pecinan. Dua pekan sebelum ramadan 2003, lima anak muda cowok duduk harap-harap cemas menunggu namanya dipangil buat wawancara. Ke lima anak muda itu (lupa-lupa inget ya) Aril, ricki, Sutan, Ari Jangkung, satu anak UNP dan satu lagi anak UPI, gue lupa namanya. Jujur, secara fisik gue nomor terburuk ke d...