Gw ketemu orang minang di kapal!!!
Horeeeeeee.......
Hahahah....
Rasanya seperti nemu harta karun. Ga bermaksud rasis sih, pasti yang saya alami ini juga kamu alami juga barangkali. Ada chemistry yang susah dijelaskan kalo ketemu orang sekampung di rantau, sekalipun ga pernah kenal sebelumnya. Ya kan?
Kejadian ini terjadi saat mau sarapan di dapur.
Setengah sadar kedengaran obrolan dalam bahasa yang saya kenal banget. Sambil oles-oles roti, saya terus nguping. Terus terus terus dan terus...
"Urang padang bang?" Tanya saya seneng.
"Yo!"
Yihaaaaaaaaa.........
Feeling saya ga pernah salah dalam kasus tebak-tebak buah manggis beginian.
Sejak awal ketemu muka dua orang ini, saya yakin ini orang awak.
Satu orang selalu pake baju kerja dengan nama "imra chatib"
Nama dan mukanya Minang banget, sejak awal. Satu lagi temennya, Frizi.
Bisa ditebak, kenal ga kenal, Kamipun langsung hebboh berbahasa minang di dapur.
Seperti ketemu temen lama. Ada rasa seneng banget di antara kami bertiga. Yang sejak semula saya pikir akan mustahil bertemu orang Minang di Kapal ini. Kalo ga arab, batak atau gak jawa, atau gak betawi.
Keknya gimana gituuu menterapi lidah kembali ke selera asal....hahahah ya kan?
Kamipun terlibat obrolan hebboh soal perkembangan evakuasi terkini, dalam bahasa Minang doooong.
"Katonyo tim ROV baliak bang hari ko?" Tanya saya
"Iyo. Ka jakarta lai"
"Paiii cieeeek!"
"Baa tu?"
"Bosan bana bang heheh..."
"Hehe...kok dikecek an bosan, bosanlah kami lai,"
Bla bla bla....
Duh senangnya, saya pikir saya doang yang bule ostrali disini, ternyata ada dua orang lagi. Senangnya pagi ini!!
Hahahahha.....
Pada pertemuan ke dua dengan bang Imra, secara tak sengaja di dek atas (bridge), kamipun ngobrol lebih private.
Seneng banget rasanya entah kenapa ketemu sesama orang Minang kali ini. Seperti bersua dengan saudara.
Setelah mindik-mindik menuju tempat bang imra, pembicaraanpun dimulai.
"Baa, iyo kapulang juo?" Tanya bang Imra
"Iyo kok dapek bang"
"Bang rencana pulang jo kapa mayit (KN Pacitan). Antah kini antah bisuak, alun jaleh. Nan jaleh, kami ndak ado operasi disiko lai doh"
"Tulah bang a. Manangguang sadonyo. Kepala basarnas rencana mau kamari, badan pesawat alun tarapuang lai, indak ka mungkin se bisa ikuik pulang,"
"Proyeksi kantua ambo 3 minggu"
Mati gw!!! Langsung lemes
"Emang baa bana?"
"Bosan bang. Asam lambuang wak naik taruih, ubek makin menipis"
"Jan talek makan, santai selah. Mainlah ka bunker bang, main games wak sinan. Apo nan bapikian?"
"Pengen pulang, ndak tabiaso mungkin bang lamo-lamo di lawik"
"Ambo, alah duo tahun ndak kalawik. Iko pulo nan pertamo mah sajak duo tahun"
Curhat makin banyak. Saya meminta no hape. Yang jelas, ada rasa sedih bakal mau pisah dengan duo urang awak tadi.
"Dari Padang apo Bukik bang?"
"Bukik (bukittinggi)"
Lagi-lagi feeling saya bener. Muka-muka orang bukittinggi gt.
Dari bridge saya menatap ke dek, dimana kontener warna putih sekaligus kamar bang imra dkk hidup. Karena kamar udah penuh di kapal ini, terpaksa deh.
kontener tempat nginep kru ROV
Saya menatap kontener itu, seolah-olah tak akan pernah bersua lagi dengan duo urang awak tadi. Drama banget ga sih gw? Lebay!
Apalagi kata Pak Untung, malam ini kapal pacitan akan merapat ke teluk kumai (2 hari 1 malem). Dan duo urang awak tadipun pergi.
Allah mengatur pertemuan ini sangat indah, dan memang benar, sebaiknya pergilah sebelum orang bosan sama kita. Karena orang akan selalu merindukan dan merasa senang dan selalu butuh sama kita.
Alhamdulillah pelajaran di hari ke 6 ini.

Bang Imra (tengah)

Frizi...

Bareng kru ROV
Dan, menjelang sore, empat kru ROV berangkat dan pindah kapal.
Saya+audrey merasa pengen ikut banget! Kita melepas kepergian kru ROV. Foto-foto buat kenangan.
Bad news and goodnya adalah:
Frizi, pulang duluan.
Bang imra, masih di kapal saya.
Hasil evakuasi hari ini:
5 jenazah ditemukan. 4 udah diangkat. Satu diduga kuat pilot, keliatan dari seragamnya. Tau gak, bahkan ada satu penumpang yang ditemukan telah memakai jaket pelampung. Itu berarti....itu berarti.....?
Wish: segera mendarat

Komentar
Posting Komentar