Langsung ke konten utama

Selat Karimata.......Day by Day (bagian 7)


Day 7 
Hari ini nemu 3 mayat udah. Badan pesawat yang jadi target kapal saya, belum ke angkat-angkat juga. Udah. 

Bosen. 


Saat nulis notes ini saya lagi merenung di deck atas. Sore-sore menjelang pukul empat. Seusai dapet sinyal dan menelpon ibu, ponakan di padang dan kantor. 

Sambil menatap luasnya lautan. Sambil dengerin aneka lagu minang wisye pranadewi "bulan sabik". 

Ndeh....hanya airmata yang bisa melukiskan betapa kacau balaunya perasaan ini. Bosen, bosen, rindu daratan, keluarga, sahabat handai taulan, dan ada prasaan sedih ditinggal tim ROV pimpinan bang Imra. 

Di depan saya, bang Imra dan tim siap-siap pindah kapal dan mendarat. Itu artinya persuaan kami hanya akan sampai disini, di kapal ini. Tapi tidak jika udah di darat terutama di kampung halaman kami. InsyAllah. 



                                          hanya bisa terpana.....

Terimakasih Allah atas pertemuan sesaat dengan orang-orang yang menyenangkan ini. Semoga kami semua selamat tiba di rumah masing-maisng. Dan dalam waktu yang tak lama berjumpa kembali di lain medan dan cerita, tentunya cerita suka cita dong. Amin YRA. 

Gw melepas kepergian tim rov dengan lagu ngarai sianok-nya wisye prana dewi. 

Pas banget dengan suasana hati. 
Menjelang bobo, usai isya, saya dan audrey ngintip di ruang nonton. Ternyata lagi nobar. Nobar aksi diver masang-masang balon pelampung di badan pesawat. Malem-malem gini? Ho oh. Gw mah ogah dah..... 

Wah-wah, saya berdoa khusus dan khusuk deh atas pekerjaan malam ini. Yang jauh diperdekat, yang lama dipersingkat, yang rumit dipermudah, yang gelap diterangkan, yang lemes diperkuat oleh Allah swt, semoga saja dijabbah, amin YRA. 

InsyaAllah, aku yakin. Besok balon pelampung udah ngambang, dan insyaAllah cuaca bagus, segera diseret ke Teluk Kumay, kalimantan tengah. 

Mendarat. Sungguh kerinduan kami tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, suwer deh sumpah eke bow! 

Terserah deh daratan mana dulu. Apabila sampai di Kumay, mungkin bisa plesiran disana dulu barang beberapa jam, icip-icip, blanja blenji, alias plesiraaaan. Alias lagi, selamat datang keriangan. 

Bosen tingkat langit ke 6 deh! 


Bobo ah. 

Wish: besok badan pesawat ngapung, kapal merapat ke kumay dalam cuaca yang cerah, amin. 

Eh eh kelupaan nulis, sekarang saya udah tau, kalau yang ranjangnya di bawah ranjang Rebong itu namanya, Ambhiko! 

Oooo...... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggenggam Batam

Akhir April 2015 silam saya mengambil cuti tahunan untuk sejumlah kepentingan dunia akhirat. Aseek. Namanya juga cuti ya, apalagi agenda ini tak biasa sudah barang tentu menjadi sebuah hal yang sangat dinanti -nantikan. Tapi sory ya bro en sist, di tulisan kali ini, agenda yang tak biasa itu ga bisa saya paparkan yak, rahasia negara soalnya. Tapi kalo soal kehebohan saya jalan-jalan di Batam dan ngapain aja selama pulang kampung, pasti akan saya ceritakan dengan riang gembira. Like usually... Eh eh kok ke Batam? mau belanja barang elektronik?? Ennah itu dia. Critanya saya mau ke Singapura melalu cara yang ga biasa dari Jakarta. Saya udah menyusun segala sesuatunya untuk solo traveling ke sana. Dua bulan sebelumnya deh, sampe saya beli guiding book segala lho. Jakarta flight ke Batam, trus naik ferry buat nyebrang ke singapura. Kalo Jkt-Sin, basik. Terlalu biasa. Kalo via Batam, ada tiga pengalaman di tiga daerah yang berbeda yang tentunya punya kehebohan tersendiri. Ka...

PACAH TALUA !

Setelah penantian lima tahun lebih, akhirnya bisa mudik lebaran juga tahun ini. 1 Syawal 1438 H, alias 2017. Aroma bisa merasakan nikmatnya mudik lebaran itu sebenarnya udah kecium sejak saya mutasi. Dari divisi Jakarta News Daily ke Current Affairs. Sejak itulah saya selalu berdoa agar beneran gitu bisa pulkam. Dan beneran aja, alhamdulillah doa dijabah. Dan mau tahu rasanya gimana? TAK BISA DILUKIS PAKE KATA-KATA. BAHAGIA LAHIR BATHIN MESKI KANTONG TERKURAS. wkwkwkwk.... Gimana enggak, di saat orang bersuka cita mudik dengan berbagai cara, saya justru berjibaku di jalanan guna kerja, liputan mudik. Kalo enggakpun kebagian, dipastikan hari H, saya kerja. Liputan. Jadinya sedih dobel-dobel gitu. Makanya, ketika kesempatan itu datang, bahagia dobel-dobel juga. Merasakan gimana deg-degan nya menunggu hari kepulangan. Menikmati detik demi detik berburu oleh-oleh, belanja pakaian di Tanah Abang. Belum lagi impian, merasakan riuhnya ruang tunggu bandara. Bareng-bareng dengan para pemud...

catatan perpisahanku dengan SUSHI FM

BEuuuuuhh.....5 tahun setengah lebih kurang gue dibesarkan sekaligus ikut membesarkan SUSHI FM.......dua pekan jelang ramadan tahun 2003, gue masih menjadi anak muda item, bau, kampungan dan tak begitu berharap banyak untuk diterima di sushi fm, namun sekarang dua pekan jelang ramadan 2009, yang item, bau, kampungan itu telah menyudahi karirnya di SUSHI FAM YANG KINI MENJADI RADIO TERBAIK PERTAMA DI SUMBAR. BERKAT ARIL Adalah khairil anwar tanjung a.k.a arya danta a.k.a aril yang betul-betul berjasa membawa gue menjadi seorang ricki satria, yang dulunya hanya dikenal sebagai Yovan Etreusca dan Rizki Borobudur (at BOOS FM) dari sebuah radio kecil di pelosok pecinan. Dua pekan sebelum ramadan 2003, lima anak muda cowok duduk harap-harap cemas menunggu namanya dipangil buat wawancara. Ke lima anak muda itu (lupa-lupa inget ya) Aril, ricki, Sutan, Ari Jangkung, satu anak UNP dan satu lagi anak UPI, gue lupa namanya. Jujur, secara fisik gue nomor terburuk ke d...